DASAR-DASAR KURIKULUM 2013

Adetya Rahman // Al Muhalla Amarta // Risa Agustin // Sabilal Rosyad

KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.  Proses pendidikan dapat menjadikan seseorang menjadi lebih dewasa, melalui sebuah pendidikan maka seseorang akan menjadi berfikir dan bersikap lebih dewasa.

Pendidikan formal dilaksanakan oleh sekolah-sekolah yang memiliki jenjang-jenjang tertentu. Mulai dari sekolah tingkat usia dini hingga perguruan tinggi. Dalam proses pendidikan perlu adanya suatu manajemen pendidikan, baik itu tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Manajemen pendidikan itu berfungsi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu faktor yang perlu ada pengaturan yang baik itu adalah pengaturan kurikulum. Kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran.

Indonesia merupakan sebuah negara yang besar multikultur. Ada sekitar 200 suku bangsa yang ada di negara ini. sebagai suatu negara yang besar, Indonesia membutuhkan manajemen pendidikan yang baik guna mebangun suatu bangsa. dalam bidang kurikulum, Indonesia pernah mengalami beberapa kali pergantian kurikulum. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006 dan yang terakhir 2013. Kurikulm terbaru yakni kurikulum 2013 sudah diimplementasikan sejak awal tahun pelajaran 2013/2014 di Republik Indonesia pada satuan pendidikan sasaran sebanyak 6.326 unit dan belum termasuk daerah kabupaten/kota yang melaksanakan secara mandiri.

Pemahaman tentang seluk-beluk kurikuluum 2013 sangat penting bagi mahasiswa calon tenanga kependidikan. Pemahaman yang baik tentang sebuah kurikulum dapat mempermudah siapapun dalam memahami, menyikapi sampai pada mendukung implementasi Kurikulum 2013 ini. Oleh karena itu disusunlah makalah tentang dasar-dasar ku Kurikulum 2013 ini.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan, maka secara garis besar ada beberapa rumusan masalah sebagai berikut.

  1. Mengapa kurikulum 2013 perlu di susun?
  2. Apa saja landasan filosofis dari kurikulum 2013?
  3. Bagaimana lingkup dan aspek perubahan pada kurikulum 2013?
  4. Bagaimana tema pengembangan kurikulum 2013?
  5. Apa saja perbaikan-perbaikan yang ditawarkan oleh kurikulum 2013?
  6. Bagaimana strategi implementasi kurikulum 2013?

 

KAJIAN

A. Urgensi Pengembangan Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 diawali dengan analisis kebutuhan masyarakat Indonesia. Analisis kebutuhan tersebut merupakan analisis kesenjangan mengenai kemampuan yang perlu dimiliki warganegara bagi kehidupan berbangsa dan bernegara pada dekade ketiga dan keempat abad ke-21. Adanya tantangan seperti keterikatan Indonesia dalam perjanjian internasional seperti APEC, WTO, ASEAN Community, CAFTA. Berbagai penelitian tentang kualitas pendidikan di dunia juga telah banyak dilakukan, misalnya TIMMS dan PISA. Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa penguasaan soft skills perlu mendapatkan prioritas dalam pengembangkan kemampuan warganegara untuk kehidupan masa depan.

Analisis Tujuan Pendidikan Nasional sebagai arah pengembangan kurikulum. Setiap upaya pengembangan kurikulum haruslah didesain untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional. Kurikulum sebagai jiwa pendidikan (the heart of education) harus selalu dirancang untuk mencapai kualitas peserta didik dan bangsa yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan. Kajian dari tujuan pendidikan nasional memberi arah yang juga mengacu kepada pengembangan soft skills yang berimbang dengan penguasaan hard skills.

Analisis kesiapan peserta didik dilakukan terutama dari kajian psikologi anak dan psikologi perkembangan, tahap-tahap perkembangan kemampuan intelektual peserta didik serta keterkaitan tingkat kemampuan intelektual peserta didik dengan jenjang kemampuan kompetensi yang perlu mereka kuasai. Analisis ini diperlukan agar kompetensi yang dikembangkan dalam Kurikulum 2013 bersesuaian untuk menerapkan prinsip belajar. Prinsip belajar mengatakan bahwa proses pembelajaran dimulai dari kemampuan apa yang sudah dimiliki untuk mencapai kemampuan di atasnya dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum.

Analisis berikutnya adalah kajian terhadap desain kurikulum 2006 yang menjadi dasar dari KTSP dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2005 tentang Standar Isi. Dalam Standar Isi terdapat Kerangka dasar Kurikulum dan struktur kurikulum. Analisis terhadap dokumen kurikulum tersebut menunjukkan bahwa desain kurikulum dikembangkan atas dasar pengertian bahwa kurikulum adalah daftar sejumlah mata pelajaran. Oleh karena itu satu mata pelajaran berdiri sendiri dan tidak berinteraksi dengan mata pelajaran lainnya. Melalui pengembangan kurikulum yang demikian maka ada masalah yang cukup prinsipiil yaitu konten kurikulum yang dikategorikan sebagai konten berkembang (developmental content) tidak mendapatkan kesempatan untuk dikembangkan secara baik. Konten kurikulum berkembang seperti nilai, sikap dan ketrampilan (intelektual dan psikomotorik) memerlukan desain kurikulum yang menempatkan satu mata pelajaran dalam jaringan keterkaitan horizontal dan vertikal dengan mata pelajaran lain. Dari hasil analisis tersebut maka dikembangkan desain baru yang memberikan jaminan keutuhan kurikulum melalui keterkaitan vertikal dan horizontal konten.

Berdasarkan analisis tersebut maka ditetapkan bahwa perlu pengembangan Standar Kompetensi Lulusan baru yang menggantikan Standar Kompetensi Lulusan yang sudah ada. Standar Kompetensi Lulusan Baru di arahkan untuk lebih memberikan keseimbangan antara aspek sikap dengan pengetahuan dan ketrampilan. Walau pun Standar Kompetensi Lulusan bukan kurikulum tetapi berdasarkan pendekatan pendidikan yang berstandar standar sebagaimana yang dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maka pengembangan Standar Kompetensi Lulusan merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan. Sesuai dengan pendekatan berdasarkan standar maka kurikulum harus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan.

B. Landasan Filosofis Kurikulum 2013

Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum menentukan kualitas peserta didik yang akan dicapai kurikulum, sumber dan isi dari kurikulum, proses pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta didik dengan masyarakat dan lingkungan alam di sekitarnya. Kurikulum 2013 dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. Kurikulum 2013 dikembangkan menggunakan filosofi sebagai berikut.

  1. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan masa depan selalu menjadi kepedulian kurikulum, hal ini mengandung makna bahwa kurikulum adalah rancangan pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa. Dengan demikian, tugas mempersiapkan generasi muda bangsa menjadi tugas utama suatu kurikulum. Untuk mempersiapkan kehidupan masa kini dan masa depan peserta didik, Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini.
  2. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik. Proses pendidikan adalah suatu proses yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi kemampuan berpikir rasional dan kecemerlangan akademik dengan memberikan makna terhadap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dipelajari dari warisan budaya berdasarkan makna yang ditentukan oleh lensa budayanya dan sesuai dengan tingkat kematangan psikologis serta kematangan fisik peserta didik. Selain mengembangkan kemampuan berpikir rasional dan cemerlang dalam akademik, Kurikulum 2013 memposisi-kan keunggulan budaya tersebut dipelajari untuk menimbulkan rasa bangga, diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi, dalam interaksi sosial di masyarakat sekitarnya, dan dalam kehidupan berbangsa masa kini.
  3. Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini menentukan bahwa isi kurikulum adalah disiplin ilmu dan pembelajaran adalah pembelajaran disiplin ilmu (essentialism). Filosofi ini mewajibkan kurikulum memiliki nama matapelajaran yang sama dengan nama disiplin ilmu, selalu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kecemerlangan akademik
  4. Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism). Dengan filosofi ini, Kurikulum 2013 bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan dalam berpikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat, dan untuk membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik.

Dengan demikian, Kurikulum 2013 menggunakan filosofi sebagaimana di atas dalam mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi inteligensi yang sesuai dengan diri seorang peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa dan ummat manusia.

C. Ruang Lingkup Perubahan Kurikulum 2013

Inti dari Kurikulum 2013, adalah ada pada upaya penyederhanaan, dan tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Titik beratnya, bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Adapun obyek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya. Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.

Pelaksanaan penyusunan kurikulum 2013 adalah bagian dari melanjutkan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu, sebagaimana amanat UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada penjelasan pasal 35, di mana kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Paparan ini merupakan bagian dari uji publik Kurikulum 2013, yang diharapkan dapat menjaring pendapat dan masukan dari masyarakat.

  1. Strategi Peningkatan Capaian Pendidikan

Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan bagian dari strategi meningkatkan capaian pendidikan. Disamping kurikulum, terdapat sejumlah faktor diantaranya: lama siswa bersekolah; lama siswa tinggal di sekolah sekolah dalam arti penambahan jam pelajaran; pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi; buku pegangan atau buku babon; dan peranan guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan, efektivitas pembelajaran melalui kurikulum, dan peningkatan kompetensi dan profesionalitas guru.

DIAGRAM STRATEGI K-13
DIAGRAM STRATEGI K-13
Gambar 1. Strategi Peningkatan Capaian     Pendidikan

Pada gambar di atas menggambarkan tentang strategi meningkatkan capaian pendidikan, yang digambarkan melalui sumbu x (efektivitas pembelajaran melalui kurikulum, dan peningkatan kompetensi dan prefesionalitas guru), y (pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi) dan z (lama tinggal di sekolah dalam arti penambahan jam pelajaran).

Kurikulum 2013 dikembangkan untuk meningkatkan capaian pendidikan dengan 2 (dua) strategi utama yaitu peningkatan efektifitas pembelajaran pada satuan pendidikan dan penambahan waktu pembelajaran di sekolah. Efektifitas pembelajaran dicapai melalui 3 tahapan yaitu efektifitas Interaksi, efektifitas pemahaman, dan efektifitas penyerapan.

  • Efektifitas Interaksi akan tercipta dengan adanya harmonisasi Iklim akademik dan budaya sekolah . Iklim dan budaya sekolah sangat kental dipengaruhi oleh manajemen dan kepemimpinan dari kepala sekolah dan jajarannya. Efektifitas Interaksi dapat terjaga apabila kesinambungan manajemen dan kepemimpinan pada satuan pendidikan. Tantangan saat ini adalah sering dijumpai pergantian manajemen dan kepemimpinan sekolah secara cepat sebagai efek adanya otonomi pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh politik daerah.
  • Efektifitas pemahaman menjadi bagian penting dalam pencapaian efektifitas pembelajaran. Efektifitas tersebut dapat tercapai apabila pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi (Menyimak, Melihat, Membaca, Mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan,  mengkomunikasikan. Oleh karena itu penilaian berdasarkan proses dan hasil pekerjaan  serta kemampuan menilai sendiri.
  • Efektifitas Penyerapan dapat tercipta mana kala adanya kesinambungan pembelajaran secara horisontal dan vertikal. Kesinambungan pembelajaran secara horizontal bermakna adanya kesimbungan mata pelajaran dari kelas I sampai dengan kelas VI pada tingkat SD, kelas VII sampai dengan IX pada tingkat SMP dan kelas X sampai dengan kelas XII. Selanjutnya kesinambungan pembelajaran vertikal bermakna adanya kesinambungan antara mata pelajaran pada tingkat SD, SMP, sampai dengan SMA/SMK.

Sinergitas dari ketiga efektifitas pembelajaran tersebut akan menghasilkan sebuah transfomasi nilai yang bersifat universal, nasional dengan tetap menghayati kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yang berkarakter mulia. Selanjutnya, penerapan kurikulum 2013 diimplementasikan adanya penambahan jam pelajaran. Hal tersebut sebagai akibat dari adanya perubahan proses pembelajaran yang semula dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu. Selain itu, akan merubah pula proses penilaian yang semula dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output.

Penambahan jam pelajaran bukan suatu hal kemustahilan. kecenderungan banyak negara menambah jam pelajaran seperti KIPP dan MELT di AS, Korea Selatan. Jika dibandingan dengan negara-negara lain jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat. Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi sudah didukung dengan pembelajaran tutorial. Sampai saat ini kurikulum 2013 masih dalam tahap perumusan kompetensi inti dan dasar. Selanjutnya Kemdikbud akan melakukan uji publik apabila Kurikulum tersebut secara utuh sudah tersusun. Dengan adanya kurikulum ini, Indonesia akan semakin maju dan tidak tertinggal dalam pergaulan Internasional.

  1. Rasio Penambahan Jam Pelajaran

Rasionalitas penambahan jam pelajaran dapat dijelaskan bahwa perubahan proses pembelajaran (dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu) dan proses penilaian (dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output) memerlukan penambahan jam pelajaran. Di banyak negara, seperti AS dan Korea Selatan, akhir-akhir ini ada kecenderungan dilakukan menambah jam pelajaran. Diketahui juga bahwa perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat. Bagaimana dengan pembelajaran di Finlandia yang relatif singkat. Jawabnya, di negara yang tingkat pendidikannya berada di peringkat satu dunia, singkatnya pembelajaran didukung dengan pembelajaran tutorial yang baik.

PERBANDINGAN RATA-RATA JAM BELAJAR SISWA INDONESIA
GRAFIK PERBANDINGAN RATA-RATA JAM BELAJAR SISWA INDONESIA DIBANDING NEGARA LAIN

Jumlah jam pelajaran di Indonesia (6.000 jam) tertinggal dibandingkan negara kawasan Eropa (6.800 jam) . Australia 7.800 jam. Sementara Israel, Belgia, Belanda, Kanada, Inggris, Turki di atas 7.000 jam . Pada kurikulum 2013 jumlah jam pelajaran dinaikkan 4-6 jam per minggu.

Tentunya rasionalitas ini diharapkan mampu memberikan solusi terhadap tantangan masa depan dan fenomena stigma negatif yang ada di masyarakat. Penambahan jam belajar yang diterapkan sejalan dengan implementasi Kurikulum 2013 seyogianya tidak untuk membebani siswa. Penambahan jam belajar 4-6 jam per minggu ini jika dibagi rata adalah 35-45 menit per hari, dengan asumsi satu jam pelajaran adalah 45 menit, bukan 60 menit. perbandingan jumlah jam belajar pendidikan dasar anak-anak usia sekolah di negara OECD, jumlah jam belajar di Indonesia masih tertinggal. Rata-rata lama sekolah untuk seorang anak mengenyam pendidikan dasar di Indonesia, SD—SMP, adalah 6.000 jam. Sedangkan di negara-negara OECD rata-ratanya 6.800 jam.

D. Tema Pengembangan Kurikulum 2013

Tema pengembangan Kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), pengetahuan (tahu apa) dan keterampilan (tahu bagaimana), yang terintegrasi.  Dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan abad 21, saat inin memang telah terjadi perubahan atau pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada Kurikulum 2013.

Kurikulum 2013 mempunyai karakteristik membangun pribadi secara utuh. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang bertujuan menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi. Terkait dengan uraian di atas maka guru harus berupaya keras memahami dan mampu menerapkan kurikulum 2013 dalam pembelajaran secara profesional. Harus ada keberanian untuk menafsirkan dan mengembangkan perangkat-perangkat pembelajaran sebagai terjemahan dari kurikulum 2013 dalam praktek-praktek pembelajaran sehari-hari. Dua aspek penting dalam implementasi kurikulum 2013 adalah kemampuan guru menerapkan pendekatan pembelajaran inovatif.

Pengetahuan guru mengenai model-model pembelajaran inovatif dan penerapannya dalam konteks kurikulum 2013 mempunyai ciri sebagai berikut:

  1. Proses Pembelajaran
  • Menggunakan pendekatan saintifik melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar,….
  • Menggunakan ilmu pengetahuan sebagai penggerak pembelajaran untuk semua mata pelajaran
  • Menuntun siswa mencari tahu, bukan diberi tahu (discovery learning)
  • Menekankan kemampuan berbahasa sebagai alat komunikasi, pembawa pengetahuan dan berpikir logis, sistematis dan kreatif
  1. Proses Penilaian
  • Mengukur tingkat berpikir siswa mulai rendah sampai tinggi
  • Menekankan pada pertanyaan yang membutuhkan pemikiran mendalam (bukan sekedar hafalan)
  • Mengukur proses kerja siswa, bukan hasil kerja siswa
  • Menggunakan portofolio pembelajaran siswa

Proses pembelajaran yang mendukung tumbuhnya kreativitas hendaknya tidak di dasarkan pada intelegensia semata. Riset yang dilakukan oleh Dyers, J.H, et al (2011) menunjukkan bahwa 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik. Proses pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar dan mencoba (observation based learning). Konsepsi atau pandangan guru tentang, apa yang dipelajari siswa, bagaimana belajar terjadi, dan peran guru dalam proses pembelajaran. Smith (dalam Suparno, 2008) mengklasifikasikan konsepsi belajar menjadi tiga tipe : (1) konsepsi belajar sebagai pemerolehan fakta, (2) konsepsi belajar sebagai pemahaman isi, dan (3) konsepsi belajar sebagai perubahan. Riset yang dilakukan oleh Sharp (2004) guru dapat membuat peserta didik berani berperilaku kreatif melalui tugas yang tidak hanya memiliki satu jawaban tertentu yang benar, mentolerir jawaban yang menyimpang, menekankan pada proses bukan hanya hasil saja, memberanikan peserta didik untuk mencoba, menentukan sendiri yang kurang jelas informasinya dan untuk memiliki interpretasi sendiri terkait dengan pengetahuan atau kejadian yang diamatinya, memberikan keseimbangan antara yang terstruktur dan yang spontan.

Dalam teori manajemen, sebagai sistem perencanan pembelajaran yang baik, kurikulum harus mencakup empat hal. Pertama, hasil akhir pendidikan yang harus dicapai peserta didik (keluaran), dan dirumuskan sebagai kompetensi lulusan. Kedua, kandungan materi yang harus diajarkan kepada, dan dipelajari oleh peserta didik (masukan/standar isi), dalam usaha membentuk kompetensi lulusan yang dinginkan. Ketiga, pelaksanan pembelajaran (proses, termasuk metodologi pembelajaran sebagai bagian dari standar proses) supaya ketiga kompetensi yang dinginkan terbentuk pada diri peserta didik. Kempat, penilaian kesesuaian proses dan ketercapaian tujuan pembelajaran sedini mungkin untuk memastikan bahwa masukan, proses, dan keluaran tersebut sesuai dengan rencana yaitu pembelajar yang sukses (tidak pernah berhenti belajar), individu yang percaya diri dan warga negara yang bertanggung jawab. Hal ini menunjukan belum dipahaminya secara utuh bahwa kurikulum berbasis kompetensi mencakup metodologi pembelajaran. Tanpa metodologi pembelajaran yang sesuai, tak akan terbentuk kompetensi yang diharapkan. Pemikiran pengembangan Kurikulum 2013 seperti diuraikan di atas dikembangkan atas dasar taksonomi-taksonomi yang diterima secara luas, kajian KBK 2004 dan KTSP 206.

Prinsip belajar mengatakan bahwa proses pembelajaran dimulai dari kemampuan apa yang sudah dimiliki untuk mencapai kemampuan di atasnya dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum. Berdasarkan analisis tersebut maka ditetapkan bahwa perlu pengembangan Standar Kompetensi Lulusan baru yang menggantikan Standar Kompetensi Lulusan yang sudah ada. Standar Kompetensi Lulusan Baru di arahkan untuk lebih memberikan keseimbangan antara aspek sikap dengan pengetahuan dan ketrampilan. Walau pun Standar Kompetensi Lulusan bukan kurikulum tetapi berdasarkan pendekatan pendidikan yang berstandar standar sebagaimana yang dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maka pengembangan Standar Kompetensi Lulusan merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan. Sesuai dengan pendekatan berdasarkan standar maka kurikulum harus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan.

Analisis berikutnya adalah kajian terhadap desain kurikulum 2006 yang menjadi dasar dari KTSP dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2005 tentang Standar Isi. Dalam Standar Isi terdapat Kerangka dasar Kurikulum dan struktur kurikulum. Analisis terhadap dokumen kurikulum tersebut menunjukkan bahwa desain kurikulum dikembangkan atas dasar pengertian bahwa kurikulum adalah daftar sejumlah mata pelajaran. Oleh karena itu satu mata pelajaran berdiri sendiri dan tidak berinteraksi dengan mata pelajaran lainnya. Melalui pengembangan kurikulum yang demikian maka ada masalah yang cukup prinsipiil yaitu konten kurikulum yang dikategorikan sebagai konten berkembang (developmental content) tidak mendapatkan kesempatan untuk dikembangkan secara baik. Konten kurikulum berkembang seperti nilai, sikap dan ketrampilan (intelektual dan psikomotorik) memerlukan desain kurikulum yang menempatkan satu mata pelajaran dalam jaringan keterkaitan horizontal dan vertikal dengan mata pelajaran lain. Dari hasil analisis tersebut maka dikembangkan desain baru yang memberikan jaminan keutuhan kurikulum melalui keterkaitan vertikal dan horizontal konten.

Berdasarkan rumusan Standar Kompetensi Lulusan yang baru maka dikembangkanlah Kerangka dasar Kurikulum yang antara lain mencakup Kerangka Filosofis, Yuridis, dan Konseptual. Kegiatan pengembangan berikutnya adalah penetapan struktur kurikulum. Struktur kurikulum menggambarkan kerangka kurkulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran, pengelompokkannya, posisi mata pelajaran, beban belajar mata pelajaran per minggu dan jumlah beban belajar keseluruhan per minggu. Berdasarkan prinsip penyederhanaan kurikulum maka jumlah mata pelajaran dikurangi tetapi jam belajar baik untuk setiap mata pelajaran mau pun untuk keseluruhan ditambah. Penambahan jam belajar adalah untuk memberikan waktu yang cukup bagi peserta didik mengembangkan kompetensi ketrampilan dan sikap melalui proses pembelajaran yang berorientasi pada sains. Berdasarkan struktur kurikulum yang telah ditetapkan, selanjutnya dirumuskan Kompetensi Inti setiap kelas yang menjadi pengikat dari berbagai Kompetensi Dasar. Adanya Kompetensi Inti lebih menjamin terjadinya integrasi Kompetensi Dasar antarmata pelajaran dan antarkelas. Proses pengembangan Kompetensi Dasar melibatkan pengembang kurikulum yang terdiri dari guru, dosen, dan para pakar pendidikan.

Berdasarkan Kompetensi Dasar yang telah direview dan dinyatakan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan maka dikembangkan silabus. Pengembangan silabus dimaksudkan agar ada patokan minimal mengenai kualitas hasil belajar untuk seluruh Indonesia. Dalam silabus ditetapkan sebagai patokan minimal adalah indikator yang dikembangkan dari Kompetensi Dasar dan kemudian diramu dalam Materi Pokok, proses pembelajaran yang dikembangkan dari kegiatan observasi, menanya, mengasosiasi, dan mengomunikasi. Keempat kemampuan ini dikembangkan selama dua belas tahun sehingga kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan belajar peserta didik dapat menjadi kebiasaan-kebiasaan yang memberikan kebiasaan belajar sepanjang hayat. Silabus tidak membatasi kreativitas dan imaginasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran karena silabus akan dikembangkan lebih lanjut oleh guru menjadi RPP yang kemudian diterjemahkan dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan KD dan silabus dikembangkan buku teks peserta didik dan buku panduan guru. Buku teks peserta didik berisikan konten yang dikembangkan dari KD sedangkan buku panduan guru terdiri atas komponen konten yang terdapat dalam buku teks peserta didik dan komponen petunjuk pembelajaran dan penilaian. Adanya buku teks peserta didik dan guru adalah patokan yang memberikan jaminan kualitas hasil belajar minimal yang harus dimiliki peserta didk.

E. Aspek Perubahan Pada Kurikulum 2013

Ada 7 aspek perubahan pada kuriklum 2013. Perubahan tersebut terdapat pada aspek kompetensi lulusan, kedudukan mata pelajaran dan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran, struktur kurikulum, proses pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan kegiatan ekstrakurikuler.

Kurikulum 2013 mengharapkan adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan bagi peserta didik. Sedangkan kedudukan matapelajaran terhadap kompetensi mengalami perubahan dimana kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran berubah menjadi matapelajaran dikembangkan dari kompetensi. Pengembangan kompetensi dari peserta didik pada setiap jenjang menggunakan jenis pendekatan yang berbeda-beda. Pada jenjang SD digunakan pendekatan Tematik Integratif dalam semua mata pelajaran. Pada jenjang SMP digunakan pendekatan matapelajaran, sedangkan di jenjang sekolah menengah atas terdapat mata pelajaran wajib, pilihan, dan vokasi.

Standar Proses pembelajaran pada K-13 mengalami modifikasi dari yang semula terfokus pada Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi dilengkapi dengan kegiatan Mengamati, Menanya, Mengolah, Menalar, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta. Ada perubahan paradigma belajar pada kurikulum 2013. Dimana belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat, Guru bukan satu-satunya sumber belajar. Dan penekanan pada nilai-nilai sikap yang tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan.

Penilaian pada kurikulum 2013 mempunyai beberapa karakteristik khusus dibandingkan kurikulum sebelumnya. Diantaranya adalah menggunakan penilaian yang berbasis kompetensi, terdapat pergeseran dari penilain melalui tes menuju penilaian otentik yang mengukur kompetensi sikap,keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil, Memperkuat Penilaian Acuan Patokan dan Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian

F. Strategi Implementasi Kurikulum 2013

Saat ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sedang mempublikasikan rancangan pendidikan yang baru yaitu Kurikulum 2013. kurikulum ini merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Menurut Mendikbud, upaya ini untuk mengurangi beban guru. Pasalnya  banyak guru belum kompeten dalam merancang berbagai perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran kurikulum 2013 akan disediakan oleh pemerintah. Pelaksanaan kurikulum 2013 ini rencananya akan dilaksanakan pada bulan juni 2013 dalam pengajaran 2013/2014. namun meskipun demikian, masih ada beberapa sekolah yang belum siap dalam penerapan kurikulum baru ini.

Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota.

  1. Pemerintah bertanggungjawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum.
  2. Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara nasional.
  3. Pemerintah provinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait.
  4. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota terkait.

Definisi kurikulum selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, dari mulai yang sederhana, dimana kurikulum berarti sejumlah mata pelajaran yang ada disuatu perguruan (Tafsir, 2012:80), hingga definisi yang cukup lengkap, seperti yang tercantum dalam UU N0. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas bahwa “kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Dengan kata lain “esensi kurikulum ialah program dalam mencapai tujuan pendidikan.” (Tafsir, 2012:99).

G. Perbaikan Yang Dapat Diharapkan dari Kurikulum 2013

konsep Kurikulum 2013 menggambarkan bahwa Kurikulum 2013 ini berupaya untuk menanamkan nilai-nilai budaya yang positif yang akan tercermin dari sikap atau prilaku para peserta didik sehingga nilai-nilai positif tersebut akan mewujud menjadi karakter mereka.

Dan konsep yang kedua yang menjadi dasar dibuatnya Kurikulum 2013 yaitu Konsep Pengetahuan. kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah “kurikulum yang berbasis penguatan penalaran”. Artinya bahwa pembelajaran diarahkan untuk lebih mendorong siswa dalam mencari tahu dan mengobservasi. Siswa diarahkan untuk merumuskan masalah (bertanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab). Siswa dilatih untuk berfikir analitis (mengambil keputusan), bukan berfikir mekanistis (rutin). Siswa juga diajari untuk bekerja sama dan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.

Konsep yang ketiga yaitu Konsep keterampilan. Di dalam Kurikulum 2013 konsep ini terlihat dalam rumusan kompetensi lulusan ranah keterampilan untuk SD dimana siswa memiliki kemampuan pikir (melalui ketrampilan mengamati, menanya,mencoba, mengolah, menyaji, manalar, mencipta) dan tindak produktif dan kreatif, dalam ranah konkret dan abstrak, sesuai dengan yang ditugaskan kepadanya.

Secara keseluruhan dapat diambil kesimpulan bahwa konsep yang dijelaskan di dalam Kurikulum 2013 ini lebih baik dan lebih terarah, karena di dalam Kurikulum 2013 ini peserta didik tidak hanya menerima materi saja tetapi juga diajarkan nilai-nilai positif untuk membangun karakter peserta didik. Kurikulum 2013 ini juga lebih peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional hingga global.

Pembangunan karakter yang menjadi bagian pengembangan dari Kurikulum 2013 ini seharusnya membawa sikap optimis bagi seluruh bangsa bahwa Kurikulum 2013 ini bisa menjadi salah satu penawar dari krisis multi dimensi yang disebabkan karena rusaknya karakter bangsa. Namun demikian, dalam perjalanannya penilaian yang komprehensif terhadap Kurikulum 2013 ini tetap harus dilakukan guna perbaikan di masa yang akan datang.

KESIMPULAN

  1. Kurikulum 2013 diawali dengan analisis kebutuhan masyarakat Indonesia. yang menunjukkan bahwa penguasaan soft skills perlu mendapatkan prioritas dalam pengembangkan kemampuan warga negara untuk kehidupan masa depan.
  2. Landasan filosofis Kurikulum 2013 adalah untuk mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi inteligensi yang sesuai dengan diri seorang peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa dan ummat manusia
  3. Kurikulum 2013 dkembangkan dengan tema “insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), pengetahuan (tahu apa) dan keterampilan (tahu bagaimana), yang terintegrasi”.
  4. Aspek perubahan kurikulum 2013 terdapat pada aspek kompetensi lulusan, kedudukan mata pelajaran dan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran, struktur kurikulum, proses pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan kegiatan ekstrakurikuler
  5. Kurkulum 2013 iharakan dapat menanamkan nilai-nilai budaya yang positif yang akan tercermin dari sikap atau prilaku para peserta didik sehingga nilai nilai positif tersebut akan mewujud menjadi karakter mereka di masa ang akan datang.
  6. Kurikulum 2013 ini bisa menjadi salah satu penawar dari krisis multi dimensi yang disebabkan karena rusaknya karakter bangsa.

RUJUKAN

BSNP, 2012.Standar Kompetensi Lulusan Kurikulum 2013.

Dyers, J.H. . 2011, Innovators DNA, Havard Business Review. Dalam Marry Budd Rowe (Ed), What Research Says to Science Teachers, Vol.6, Washington, D.C. National Science Teachers Association, 5-18.

Kemdikbud 2012. Paparan menri tentang krikulum 2013. (online: http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/dokumen/Paparan/Paparan%20Wamendik.pdf)

Kemdiknas, 2013. Uji publk kurikulum 2013.

Purwanto, 2014. Kurikulum 2013.

SHARP, C. (2001). ‘Developing young children’s creativity through the arts: what does research have to offer?’ Paper presented to an Invitational Seminar, Chadwick Street Recreation Centre, London, 14 February.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s